Suara ibu yang sedang marah tidak mau ku dengar, aku keluar rumah untuk menenangkan diriku sejenak, rumah ku di perkampungan masih banyak pohon pohon bambu yang menjuntai ke atas, kalau sore hari di kampung ini adem banyak angin karna angin meniup daun daun dari pohon bambu, aku duduk di gubuk yang terletak di jalan masuk hutan, adem dengan angin yang sepoi sepoi buat aku lupakan sejenak kemarah ibu
Teman teman ku menghampiri ku dan mengjak bermain, permainan yang kami sukai adalah petak umpet, dn kami akan memainkanya
"hompipah alaium gambreng nek ijah pake baju rombeng.. ",adi jaga, kataku krna tangannnya berbeda sendir, ketika adi mengitung aku dan teman yang lainnya mencari tempat persembunyian " ahh ini tempat yang tepat ",kata ku bersembunyi di balik daun semak yang rimbun, tempat persembunyian ku kali ini agak jauh dari tempat teman teman ku dan pasti aku yang akan menang karna sulit untuk menemukanku
20 menit, 30 menit, satu jam hingga azan magrib berkumandang tidak ada temanku yang mencaari, mungkin mereka meninggalkan ku, ah kesal..
Keluar dari tempat semak semak ituh, kulihat ibuku yang sedang berdiri di hadapanku ,aku takut aku pun hanya merunduk dan pasrah untuk di marahi lagi, sambil mengelus kepalaku, "ayo nak kita pulang",kata ibuku dengan lembut, aku kaget tidak menyangka ibuku selembut ini namun aku juga senang, mungkin karna ibu menyesal karna terus memarahiku
"bu kita ko gak sampe sampe rumah ",kata ku
"karna ini sudah gelap jadi serasa rumah kita jauh "kata ibuku dengan lembut sambil terus mengandengku
Ketika sampai di rumah, ibu langsung memberiku makan dan menyuapi ku, ibuku berubah, aku senang ibu seperti inih, namun aneh aroma makanan seperti bau kotoran manusia, namun aku berfikir mungkin ini badan ku, karna kan tadi aku bermain sampai ke semak semak, setelah makan ibu menyuruhku tidur dan tidak menyuruhku mandi, ibu perlakuan iniah yang aku inginkan..
Keesokan harinya, saat aku bergegas untuk sekolah, ibu memanggilku dan mengatakan untuk tidak sekolah hari ini, karna ibu akan masak makanan yang banyak, hemmm ini lah yang aku suka
"baik ibu",jawabku sambil bergegas mengganti pakaian ku, sambil duduk di bangku dapur aku memerhatikan ibu yang sedang masak makanan, kemudian aku bertanya kepda ibu kemana ayah ibu menjawab ayah sedang ada urusan ke kota selama satu minggu
Hmm semua masakan siap dan aku siap menyantapnya, tunggu dullu aroma ituh aroma kotoran manusia itu ada lagi aroma kotoran manusia ituh berasal dari makanan inih, ah namun tidak mungkin,aku pun menyantapnya dengan lahap tapi ibu tidak memakan makanannya, ibu bilang ia akan menjemur pakaian, yasudah aku santap semua makanan, aroma busuk kotoran manusia ituu mengganggu, aku tiddak yakin bau busuk ituh dari makanan selezat inih..
"ibu.. Ibu.. Ibu.., aku izin keluar yah",
"jangan nak temani ibu disini ",
Aneh tidak biasanya ibu melarangku keluar untuk sekedar bermain, hm baiklah aku menemani ibu di rumah, suasans di kampung lebih sepi dari biasanya, dari tadi tidak ada orang yang lewat, duduk di bale sambil melihat ibu yang masih menjemur pakaian,
Sudah tiga hari aku berdiam di rumah tanpa pergi ke sekolah tanpa bermain, bosan juga rasanya seperti ini, hari pun mulai gelap kembali seperti biasa ibu menyuapiku saat makan, hari ini aku makan mie, ya ini lah makanan yang aku suka biasanya ibu marah kalau aku makan mie tapi sekarang ibu menyuapiku makan dengan mie,
"nak bagus lho kalau makan sambil tiduran dan memejamkan mata"kata ibuku
Hah ibu tidak marah bahkan memperbolehkan, aku tersenyum ke ibu ibu pamit ke dapur meninggalkan aku yang sedang tiduran memejamkan mata dan menguyah banyak mie di mulut
"dugdugdugdug... Dugdugdug.. Dugdugdug ",suara ketukan pintu yang sangat keras seperti banyak orang di luar rumahku ,aku membuka mataku ,tiba"suara ibu memangggil ku dari belakang bersama beberapa orang ,mulutku seperti terkunci aku tidak bisa berkata apah apah ,wanita yang mirip ibu memeluk ku dan menangis dya bilang sudah mencariku
"apah yang ada di mulutmu, coba buka"tanya wanita ituh, aku membuka mulutku menggeliat di dalam mulutku, mataku terperangah dan memuntahkan yang ku makan, menjijikan yang ku makan bukan mie melainkan segumpulan cacing ,mulutku tak bisa berbicara aku gagu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar